Budidaya Bawang Merah Organik Sangat Menguntungkan

Pengembangan bawang merah dengan sistem pertanian organik lebih menguntungkan dibanding dengan sistem pertanian non organik. Selain mampu menghemat biaya produksi, pengembangan bawang merah dengan pertanian organik juga mampu membuat harga jual menjadi lebih mahal.

Dari segi biaya produksi misalnya, pengembangan bawang merah termasuk komoditas pertanian lainnya dengan sistem organik, bisa lebih efisien dibanding non organik. Dengan sistem organik, petani hanya membutuhkan pupuk alami yang berasal dari kotoran hewan maupun pupuk organik olahan. Hasil produksi pun juga tidak jauh berbeda dengan menggunakan pupuk kimia, bahkan cenderung lebih banyak.

Petani bawang merah organik di dusun Nawungan, Bantul DIY, Sumarno mengatakan sudah menerapkan budidaya secara organik sejak th 2014. Saat ini di lahan nya seluas 270 m2, biaya usaha tani bawang merah yang diperlukan hanya rp. 1,5 juta dan pada tahun 2017 hasil jual bawang merahnya sebanyak 10 juta rupiah, dari produksi 400 kg bawang merah rogol kering yang dijual rp. 25 ribu/kg.

Pemberian pupuk organik dalam tanah berguna untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas menahan air, laju infiltrasi, menambah unsur hara bagi tanaman,meningkatkan pH tanah. Salah satu sumber pupuk organik adalah kotoran ternak namun membutuhkan waktu dekomposisi yang cukup lama sehingga tidak optimal dalam
pemanfaatan sebagai pupuk untuk bawang merah yang berumur pendek. Disamping membutuhkan waktu dekomposisi, petani sulit
mendapatkan pupuk kotaran ternak dalam jumlah banyak dengan harga murah. Petani membutuhkan pupuk organik, selain murah
juga mudah dalam aplikasinya pada tanaman bawang merah.

Adapun daerah di NTT yang menjadi lokasi penanaman bawang merah, yakni Kabupaten Malaka dan Belu. Di Malaka, telah dilakukan panen raya tepatnya di desa Fafoe. Kemudian, bawang merah jenis tuk tuk di Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu. Hasil panen tersebut atas pendampingan teknologi dan inovasi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT dengan rerata produksi hasil ubinan mencapai 13.28 ton/ha.

“Menurut Direktur STO Ditjen Hortikultura, bawang merah di Malaka yang dikunjunginya beberapa hari lalu, itu berkualitas sangat baik dan layak ekspor selain bernas, warna cerah merona serta dibudidayakan secara organik.

 

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *