Kemuning, Kedelai “Mutan” Hasil Teknologi Nuklir

Baru-baru ini, BATAN (Badan Tenaga Nuklir  Nasional) telah menghasilkan varietas kedelai baru, yang diberi nama Kemuning 1 dan Kemuning 2.

“Kemuning merupakan singkatan dari Kedelai Mutan Tahan Kering,” jelas Pemulia Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) BATAN, Yuliasti, saat diwawancara di Gedung Pertanian, PAIR BATAN, Jumat, (14/06).

Kedelai yang satu ini bukan sembarang kedelai, lho! Varietas ini dihasilkan dengan memanfaatkan teknologi nuklir, sehingga diperoleh keunggulan kedelai yang toleran terhadap lahan kering, produktivitas tinggi, biji yang besar, kandungan protein yang tinggi, serta rasa yang lebih gurih dibandingkan kedelai impor.

Dikutip dari laman batan.go.id, Kemuning 1 dan Kemuning 2 berasal dari varietas kedelai Panderman sebagai tetua, yang merupakan varietas dari Kementerian Pertanian. Dengan menggunakan teknik mutasi radiasi, yakni dengan melakukan penyinaran radiasi gamma cobalt 60 sebesar 300 gray terhadap varietas kedelai Panderman maka dihasilkan varietas kedelai yang diinginkan. Ia menjelaskan, beberapa keunggulan kedelai Kemuning yang dihasilkan antara lain produktivitas tinggi, toleran kekeringan, cocok ditanam di lahan kering tegalan, ukuran biji yang besar, serta rasa yang gurih.

“Kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 dapat beradaptasi dengan baik di lahan kering di Indonesia. Dengan ukuran biji yang lebih besar dan dapat bersaing dengan kedelai impor, kedelai Kemuning 1 dan Kemuning 2 menghasilkan tempe yang lebih gurih dibandingkan dengan kedelai impor.

Rata-rata hasilnya pun tinggi, diatas 2,5 ton per hektar. Kemuning 1 mencapai 2,87 ton per hektar dan Kemuning 2 mencapai 2,92 ton per hektar, masing-masing pada kadar air 12%. Kandungan protein Kemuning 1 mencapai 39, 40 persen Berat Kering (BK) dan Kemuning 2 mencapai 38,86% BK.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *