Penyu Mati Karena Sampah Plastik di Laut

Seekor paus di Thailand ditemukan mati akibat menelan 80 kg sampah plastik.  Hal serupa terjadi di Indonesia, seekor paus sperma ditemukan dalam keadaan mati di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, ini menjadi gambaran betapa mengerikannya sampah plastik bagi kehidupan di bawah laut.

Isu Indonesia darurat sampah plastik bukan hanya isapan jempol belaka. Sejumlah bukti-bukti bahwa sampah plastik di Laut Indonesia sudah sangat menghawatirkan banyak ditemukan.

Misalnya, video penyelam asal Inggris memperlihatkan begitu banyak sampah plastik di perairan Nusa Penida, Bali. Selanjutnya pada Desember 2016 di perairan Sumbawa, fotografer Amerika Serikat mengabadikan seekor kuda laut yang membawa cotton bud di ekornya dan menjadi viral.

Dikutip dari laman Kompas.com, Hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasikan pada 2015 menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Pada saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton.

Angka ini di bawah China dengan volume sampah mencapai 262,9 juta ton. Kemudian disusul oleh negara-negara Asia Tenggara lainnya seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Wild Fund for Nature (WWF) Indonesia menilai masalah pencemaran sampah plastik di laut sudah berada dalam taraf mengkhawatirkan. Bahkan, mereka menilai laut Indonesia sudah bisa disebut sebagai darurat sampah plastik karena perlu penanganan serius.

Kematian spesies seperti paus, menunjukkan adanya ancaman serupa terhadap spesies lain.

Seperti yang baru-baru ini terjadi, Seekor penyu ditemukan mati di perairan sekitar Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Jakarta. Lokasi bangkai penyu yang mengambang ditemukan tak jauh dari sampah-sampah plastik dan minyak yang mengapung (27/11/2018).

Hal serupa pun terjadi di Pantai Congot, Kulon Progo, Seekor penyu ditemukan mati, di dalam perutnya ditemukan banyak sampah plastik,
Senin (17/12/2018).

Tim Undiksha pada Jumat pagi (13/7/2018) menemukan plastik di dalam perut seekor penyu yang mati terdampar di Pantai Panarukan.

Dalam sebuah penelitian terbaru bahkan dijelaskan bahwa sampah plastik ini telah membunuh 1.000 penyu laut setiap tahunnya. Penelitian ini dilakukan oleh para peneliti dari University of Exeter, Inggris.

Mengapa penyu sampai memakan sampah plastik? Bagi penyu, kantong plastik terlihat seperti ubur-ubur yang lezat. Jaring ikan nelayan yang hanyut juga terlihat seperti rumput laut.

Kampanye untuk melindungi hewan laut pun banyak dilakukan. Salah satunya dilakukan oleh Bali Sea Turtle Society. Dikutip dari laman websitenya www.baliseaturtle.org, mereka melakukan kampanye untuk perlindungan penyu melalui distribusi brosur dan stiker, media sosial online dan juga dengan pameran prosedur perlindungan penyu yang difokuskan di Pantai Kuta. Dengan menargetkan para wisatawan di Pantai Kuta, informasi tentang perlindungan penyu akan mencapai tidak hanya pengunjung lokal dan nasional tetapi juga wisatawan internasional.

Sampah plastik di laut tidak hanya berbahaya bagi biota air dan hewan laut, melainkan juga manusia. Sudah saatnya semua sadar untuk mengurangi penggunaan plastik.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *