Polemik Pemindahan Ibukota Ke Penajem Paser Utara

Presiden Joko Widodo mengumumkan lokasi tujuan pemindahan ibu kota, yakni Penajem Paser Utara dan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.  Ada beberapa alasan Kaltim dipilih sebagai lokasi ibu kota baru. Di antaranya, daerah tersebut memiliki risiko bencana yang minim, seperti gempa bumi, kebakaran hutan dan tanah longsor. Selain itu, lokasi dua kabupaten tersebut terbilang strategis karena berada di tengah-tengah Indonesia.

Presiden menjelaskan, bahwa , gagasan untuk pemindahan ibu kota ini sudah lama sekali muncul, sejak era Presiden Soekarno, sampai di setiap era presiden pasti muncul gagasan itu. Tapi wacana ini timbul tenggelam karena tidak pernah diputuskan dan dijalankan secara terencana dan matang.

Berapa biaya pemindahan ibukota?

Proses pembangunan ibu kota baru membutuhkan biaya sekitar Rp 466 triliun dengan porsi dari APBN hanya 19 persen. Sisanya, dana akan didapatkan dari kerjasama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) dan jenis pembiayaan lain seperti investasi langsung swasta maupun BUMN.

Berapa lama waktu yang diperlukan?

Dalam rapat kabinet terbatas pada Senin (29/04), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro mengatakan realisasi pemindahan ibu kota dapat memakan waktu 10 tahun jika melihat pengalaman Brasil dan Kazakhstan. Rencana pemindahan ibukota sangat penting karena pemerintah ingin Indonesia memiliki ibukota yang mencerminkan identitas Indonesia, menjadi kota modern, berkelas internasional, atau dengan istilah smart, green, and beautiful city.

Bagaimana dengan Jakarta?

Jakarta kini dinilai sudah tidak layak lagi menjadi sebuah ibukota untuk negara sebesar Republik Indonesia. Selain itu, lokasinya yang lebih ke bagian barat Indonesia dituding sebagai penyebab tingginya tingkat kesenjangan antar wilayah di negeri ini.  Jakarta juga memiliki perencanaan kota yang buruk. Kehadiran bangunan dan gedung pencakar langit baru yang tidak terkendali juga turut menekan tanah di pusat ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini.

Selain itu, keadaan ini diperparah oleh cadangan air tanah yang tidak terkendali dan berlebihan yang sudah terjadi selama puluhan dasawarsa. Naiknya permukaan laut dan pola cuaca yang semakin berubah-ubah juga menyebabkan sebagian wilayah mulai tenggelam.

Ekstraksi air tanah yang merajalela ini menyebabkan penurunan tanah, yang membuat Jakarta tenggelam sebanyak 25 sentimeter per tahun di beberapa daerah.

“Pada tahun 1989 sampai 2007 tercatat tanah turun sudah sampai 60 cm karena akan terus menigkat sampai 120 cm karena pengurasan air tanah. Sedangkan air laut naik rata-rata 4-6 cm karena perubahan iklim. Ditambah lagi kualitas air sungai tidak hanya di Jakarta tapi khusus di jakarta 96 persen sungai di Jakarta tercemar berat, sehingga memiliki bahaya sinifikan akibat sanitasi yang buruk”.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *