Turki Sukses Uji Coba Railgun Hypervelocity, Senjata Berkecepatan Hypersonic

Perkembangan sistem persenjataan di dunia militer semakin canggih. Berbagai inovasi dan teknologi mutakhir seolah berkembang tanpa batas, bahkan setiap tahun negara-negara maju selalu mengenalkan sistem persenjataan baru yang mematikan.

Menurut lembaga penelitian bisnis senjata Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), periode tahun 2013 – 2017 bisnis senjata meningkat 10 persen dibanding periode tahun sebelumnya.

Dari data tersebut dapat dilihat 5 Negara ekportir sistem persenjataan terbesar 2013-2017 adalah United States, Russia, France, Germany dan China.

5 negara importir sistem persenjataan terbesar periode 2013 hingga 2017 adalah India, Saudi Arabia, Mesir, Uni Emirat Arab dan China.

Baru – baru ini Turki yang berhasil melakukan uji coba senjata kinetik electromagnetic hypervelocity atau railgun berkecepatan hypersonic yang membuat Amerika, Rusia, India dan China semakin gerah. Turki menamai senjata ini dengan sebutan Tubitak Sapan atau Tubitak Slingshot.

Menurut Wikipedia, Railgun adalah perangkat yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk meluncurkan proyektil kecepatan tinggi, dengan menggunakan armatur geser yang dipercepat sepanjang sepasang rel konduktif. Proyektil biasanya tidak mengandung bahan peledak.

Hasil uji coba senjata ini mampu menembakan proyektil mencapai kecepatan 7.5 March atau sekitar 9.300 km/jam.

Kelebihan penggunaan teknologi railgun adalah putaran hypervelocity sangat sulit untuk dicegat, dan kebal terhadap gangguan dan peperangan elektronik. Hal ini tentu sangat mengerikan, sekali ditembakkan maka mustahil untuk menghentikannya. Tetapi teknologi railgun memlunyai kelemahan utama yaitu konsumsi energinya yang sangat tinggi.  Sebuah railgun membutuhkan energi sekitar 20 megawatt untuk sekali tembakan.

Semakin pesatnya perkembangan teknologi untuk militer dan penerapan Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan) membuat umat manusia semakin cepat menuju kiamat.

“Jika proyek pengembangan senjata otonom oleh negara berteknologi tinggi tak dihentikan, keamanan global bakal sangat tak stabil,” ungkap Noel Sharkey, Dosen Articifial Intelligence and Robotic in University of Sheffield.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *