Rab. Agu 12th, 2020

Ngopi88.com

Rangkuman Trending Topik Indonesia Terbaru

Apa Saja Jenis Wayang Kulit Di Indonesia?

4 min read

1. Wayang Kulit Purwa Yogyakarta
Wayang Kulit Purwa Yogyakarta atau Wayang Kulit Gaya Yogyakarta merupakan wayang kulit yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan, dan sunggingan (pewarnaan) yang khas. Selain itu dalam pertunjukan Wayang Kulit Purwa Yogyakarta juga memiliki unsur-unsur khas yaitu, lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya), catur ( narasi dan percakapan) , karawitan ( gendhing, sulukan dan properti panggung ).

2. Wayang Kulit Purwa Surakarta
Wayang Kulit Purwa Surakarta merupakan salah satu wayang yang terkenal di Indonesia. Dia memiliki ciri khas tersendiri yang membedakan dengan wayang daerah lain. Wayang Kulit Purwa Surakarta memiliki detail tatahan & sunggingan yang sangat halus.

3. Wayang Kulit Gagrag Banyumasan
Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa, yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran, dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika, devosional dan hiburan, yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguh-sungguh oleh para pakar yang memahami benar.
Pakeliran ini mencakup unsur-unsur yaitu, lakon wayang (penyajian alur cerita dan maknanya), sabet (seluruh gerak wayang), catur (narasi dan cakapan) , karawitan (gendhing, sulukan dan properti panggung).

4. Wayang Kulit Cirebonan
Bentuk tatahan halus, warna cat kehijauan, sedang ciri khasnya adalah pakaian. Batara Narada, Batara Kala tidak memakai baju atau telanjang dada, tidak seperti wayang kulit Purwa dari Surakarta dan Yogyakarta, dimana para Dewa memakai baju. Wayang Cirebon, pakem wayang ini mengambil cerita dari kitab Mahabharata dan Ramayana yang telah diperbarui dan disesuaikan dengan dasar-dasar agama Islam oleh Sunan Panggung (Sunan Kalijaga). Tokoh Punakawan disini menjadi 9 orang, yaitu : Semar, Gareng, Dawala, Bagong, Curis, Witorata, Ceblek, Cingkring, dan Bagol Buntung (melambangkan jumlah 9 wali yang ada dalam menjalankan dakwah Islamiyah.

5. Wayang Kulit Mojokerto
Wayang Kulit Mojokerto ini agak kecil, sedang ukir-ukiran, ornamen dan tata warnanya juga berbeda bila dibandingkan dengan wayang kulit gaya Surakarta dan Yogyakarta. Tatahan Wayang Purwo Jawa Timur ini lebih sederhana, dan lebih banyak memakai warna merah. Teknik pedalangannya, menggunakan bahasa / dialek Jawa Timur.

6. Wayang Kulit Bali
Menurut sejarahnya wayang kulit Bali berasal dari perkembangan wayang Batu berupa relief candi Penataran di Blitar. Contoh wayangnya seperti Bima, Arjuna, Puntadewa, Anoman, Subali, Sugriwa, dll.
Wayang kulit Purwa Bali bercerita tentang “Mahabarata dan Ramayana”, dan dipergelarkan pada hari Raya agama Hindu serta festival-festival. Wayang Sapu Legel dipergunakan untuk upacara ritus kehidupan manusia seperti lahirnya bayi, lahirnya Hyang Kumara, dll. Wayang Lemah dipergunakan untuk upacara Dewa Yadnya, yang mengambil lakon bersifat filsafat seperti cerita Dewa Ruci.

7. Wayang Kulit Sasak
Wayang Kulit Sasak berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat. Disebut Sasak karena pembuatannya berasal dari etnis Sasak. Penatah wayang Sasak sampai saat ini ialah Amak Rahimah.
Dahulu wayang Sasak dipergunakan untuk berdakwah agama Islam di pulau Lombok, sekarang dipertontonkan dan untuk upacara adat, misalnya di masyarakat Malang kecamatan Gerung, kabupaten Lombok Barat. Cerita wayang Sasak mengisahkan Amir Hamzah (paman Nabi Muhammad SAW). Amir Hamzah dalam wayang kulit Sasak, namanya diganti sesuai dengan nama indonesia (Jawa) yaitu Wong Agung Menak Jayengrana. Pedoman yang dipakai huruf bahasa Jawa, diambil dari serat Menak karangan Yosodipura.

8. Wayang Kulit Banjar
Wayang Banjar ini diperkirakan dari zaman kesultanan Demak pada abad ke-16 Masehi. Wayang Banjar dikenal oleh suku Banjar, di daerah Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur. Bentuk wayang kulit ini tidak jauh berbeda dengan wayang kulit Purwa, hanya kulitnya dari kulit lembu (sapi) dan pewarnaannya dari cat minyak / kayu, seperti misalnya cat glotek sebagai bahan pewarna yang utama. Tangkai dari wayang ini terbuat dari bambu.

9. Wayang Kulit Betawi
Secara umum serupa dengan Wayang Kulit Purwa Yogjakarta. Wayang Kulit Betawi, menggunakan bahasa Betawi yang bercampur logat Jawa. Penduduk Jakarta, yang terdiri atas berbagai macam suku bangsa, Dari bentuk fisik wayangnya, urutan adegan yang ditampilkan, bisa dipastikan Wayang Kulit Betawi ini adalah turunan langsung dari Wayang Kulit Purwa. Diperkirakan sewaktu Sultan Agung Anyakrakusuma mengerahkan prajurit Mataram menggempur Batavia, pada tahun 1628 dan 1629, sebagian tentaranya tertinggal di daerah pinggiran kota bagian selatan dan tenggara. Mereka inilah yang kemudian menetap dan membawa budaya Wayang Kulit Purwa ke daerah sebelah timur dan tenggara Betawi. Dalam pertumbuhannya selama ratusan tahun, Wayang Purwa itu dipengaruhi unsur budaya Betawi, Sunda, dan Cina-sehingga jadilah seperti yang dapat disaksikan sekarang.

10. Wayang Kulit Palembang
Wayang Kulit Palembang, yang diperkirakan tumbuh sejak pertengahan abad ke-19 Masehi, memiliki bentuk fisik dan sumber cerita yang sama dengan wayang purwa dari Jawa. Bedanya, wayang Palembang dimainkan dengan menggunakan bahasa Melayu Palembang, dan perilaku tokoh-tokohnya lebih bebas. Adapun wayang purwa menggunakan bahasa Jawa dan perwatakan tokohnya ketat dengan pakem-pakem klasik.

11. Wayang Kulit Sumatera
Dibuat oleh para petani Jawa yang dibawa ke daerah Melayu Deli oleh Pemerintahan Kolonial Belanda. Wayang ini dibuat oleh dua orang yaitu Mbah Ngadi dan Mbah Suratman tahun 1932 dengan bahan dan peralatan yang sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *